Print Shortlink

Ingin mersakan masakan Chef Difabel coba kunjungi café ini

Ingin mersakan masakan Chef Difabel coba kunjungi café ini

Kafe Mbok Kom yang berada di Jalan Madya Surabaya mendadak populer karena nyaris 90 % karyawannya datang dari kelompok difabel. Bila ditelisik lebih dalam, kafe yang tidak sempat sepi dari pengunjung ini nyaris sama juga dengan warung kopi biasanya. Cuma saja menu makanannya sebagai pembeda, terlebih dihidangkan oleh chef difabel.

Mochamad Shobik, yang memiliki kafe unik ini pada, Rabu (16/11/2017), menyebutkan, saat ini beberapa orang dari kelompok berkebutuhan spesial tidak dapat sekali lagi di pandang remeh, mengingat mereka dapat melayani bahkan juga hasilkan bermacam makanan ringan lezat yang mengundang selera.

” Awalannya, memanglah banyak komplain dari customer. Tapi saya anggap wajarlah, karna mereka tidak tahu bila disini pekerja dari kelompok disabilitas. Ada yang di tanya diam saja, ada pula yang di ajak bercakap tapi tidak bertemura. Disana customer pernah terasa kesal serta kecewa, ” ungkap Shobik.

Ingin mersakan masakan Chef Difabel coba kunjungi café ini

Dia mengemukakan, sesudah pelanggan kafe tahu kalau beberapa besar pekerja kelompok disabilitas, malah mereka terasa mengagumi akan. Bahkan juga seringkali juga mendoakan supaya usahanya lancar. Beberapa besar mereka datang dari beragam kota, salah satunya Nganjuk, Trenggalek, Kediri, Sidoarjo, Surabaya, serta Bali.

Tidak Dapat Dilihat Samping Mata

” Masalah komunikasi, sesungguhnya untuk saya sendiri tidak ada kesusahan dengan pekerja difabel. Tapi ada beberapa karyawan beda yang belum juga tahu bhs isyarat yang dipakai terlebih pelanggan kafe, ” katanya.

Dia bercerita, warung kopi semi moderen ini baru saja di buka, terhitung telah satu bulan yang kemarin. Dia yang alami tunadaksa mesti sembunyikan hasratnya dari keluarga untuk buka usaha dengan kelompok difabel.

” Istri saya baru diberi tahu H-3 mendekati rilis, sedang keluarga baik orang-tua ataupun saudara tahunya waktu rilis, ” kata Shobik.

Awalannya, mereka tidak menganggap bila usaha ini digeluti dengan kelompok difabel. Tetapi, kemauan serta doa restu orangtuanya yang buat Shobik selalu mengambil langkah serta mengajak kelompok difabel berkembang tanpa ada memangku tangan orang yang lain.

” Jadi kelompok difabel, kami banyak rasakan pelajaran dari orang yang lain. Bagaimana dikucilkan, dicemooh, dan sebagainya. Mereka berasumsi kita dapat apa. Tapi saya berkeyakinan, saya dengan rekan-rekan ini dapat seperti orang normal, ” katanya.

Leave a Reply