Print Shortlink

Cerita Cinta Penuh Konflik yang Wajib Kamu Baca di 2017

Setelah tahun 2017 melewatkan 11 bulan dengan banyak lagu dan film yang membludak di pasaran denga respon public yang luar biasa antusias, tahun 2017 juga ditaburi dengan banyak buku yang siap menghibur, tak hanya buku fiksi namun non fiksi juga hadir, walau pun nyatanya fiksi jauh lebih diidolakan pembaca.

Salah satu buku fiksi yang biasanya membuat pembaca menghabiskan waktu berjam-jam berhadapan dengan lembaran demi lembaran buku adalah novel karena selain ceritanya terasa lebih pekat, novel juga lebih jelas sasarn usianya, seperi novel yang masuk dalam kategori teen, adult, new adult dengan berbagai genre yang selalu popular di kalangan pembaca. Salah satu novel yang bisa kamu baca untuk mengisi waktu senggang selama bulan November 2017 ini adalah novel karya Mahir Perdana berjudul Memories to Forget.

Dari judulnya saja, novel ini sudah menunjukkan sesuatu yang nggak ‘enak’, sudah tercium bau bau catashtrope dalam novelnya, meaning ada selipan bab yang bikin pembaca sakit hati atau baper berat, selain itu, novel yang ditulis

Mahir ini juga sepertinya memang dipersiapkan untuk menembus pasar perbukuam dengan cerita cinta yang penuh akan konflik khas yang nggak ditemukan di novel lain. oke, mungkin ada konflik yang terasa klasik, namun penulis berhasil mengatasi rasa klasik dalam novelnya dengan penggambaran bagian yang khas dan menyenangkan, plus cara penyampaian konfilknya yang memberikan daya tarik tersendiri bagi pembaca. Novel ini kabarnya ditulis ditengah kesibukkan sang penuulis sebagai dosen dan kesibukkan di dunia pendidikan.

novel Memories to Foget.

Kabaranya, Mahir Perdana adalah seorang dosen yang tengah menyelesaikan studi kedokteran di Spanyol, namun ia justru nggak memasukkan unsur-unsur berbau Spanyol yang sekarang ini sudah jadi Negara kedua bagianya, ia tetap mengutamakan latar Indonesia dalam novel Memories to Foget.

Novel ini bukan yang pertama dari Mahir, ia sudah menulis cukup banyak karangan fiksi, seperti  Here After (2011), Rhapsody (2013), Blue Heaven (2014), dan Sunset Holiday (2015), selain buku fiksi, Mahir Perdaa juga ternyata sempat menulis buku non fiksi tentang sepak bola dan perjalanannya selama menonton sepak bola di berbagai Negara dalam buku yang ia beri judul Home&Away, dan buku-bukunya jadi buku yang disukai banyak orang, karena Mahir memang punya gaya menulis yang khas.

 

Leave a Reply